Satu tahun berlalu. Rumah hijau di jalan rambutan itu kini telah berganti cat menajdi merah muda. Seakan mengikuti suasana hati pemilik rumah yang memang sedang jatuh cinta. Adalah Rere, Ria, Rasya, dan Risma yang menjadi penghuni rumah tersebut. Sebernarnya Rumah itu adalah milik Rasya. Ayahnya yang seorang pengusaha sukses, tidak tega melihat anak gadisnya yang harus kuliah di luar kota menjadi penghuni kos-kos-an. Jadi di belilah rumah di sekat kampus untuk anak semata waynagnya. Tidak hanya rumah tapi juga sekaligus bibi penjaga rumah dan sopir beserta mobilnya. Tetapi fasilitas yang begitu mewah tidak membuat Rasya sombong, malah dia yang merasa tidak enak dengan semua kemnajaan itu pun langsung mengajak sahabat-sahabat-nya saat SMA yang kebetulan satu kampus dengannya, tanpa harus membayar kontrakan. Tapi karena sahabat-sahabatnya tidak enak menerima begitu saja fasilitas yang bukan miliknya pun menuntut untuk membayar seperti layaknya mereka kos meskipun juga dengan harga yang sangat miring.
Rere, Ria, Rasya, dan Risma adalah sahabat sejak SMA. Mereka pertama kali bertemu saat kelas satu SMA. Takdir hauruf pertama membuat mereka satu kelompok saat MOS. Sejak saat itu, meski mereka selalu pisah kelas di tahun kedua dan ke tiga. Sekarang mereka sudah kuliah. Mereka berhasil di terima perguruan tinggi yang sama. Perguruan tinggi yang sejak awal memang menjadi impian mereka. Meski satu kampus tetapi jurusan mereka tidak ada yang sama. Masing-masing dari mereka memang memiliki kesenangan sendiri-sendiri. Meskipun begitu ada satu hal sama-sama mereka sukai. Yaitu FISIKA. Mereka berempat memang sama-sama suka dengan mata pelajaran yang dianggap mengerikan bagi kebanyakan orang itu. Dengan alasan itulah meski mereka berbeda jurusan tetapi basic jurusan mereka sama. Mereka sama-sama ambil jurusan teknik. Bahkan kampus mereka pun berbasis teknik.
Meskipun jurusan mereka berbeda, tetapi hubungan mereka malah semakin akrab saja. Bahkan di kampus mereka, mereka sudah dikenal sebagai “Galz” nama yang diberikan oleh anak-anak kampus mereka, karena seringnya empat cewek itu bersama. Kebersamaan yang mereka tunjukan tidak hanya sebatas kumpul bareng di kanting, berangkat dan pulang kampus bareng atau hanya sekedar nongkrong-nongkrong di SC. Tidak jarang mereka memakai dresscode saat ke kampus. Mereka memakai tas yang sama. Bahkan model rambut mereka pun sama. “Galz” sungguh sangat terkenal. Sudah setahun mereka menjadi mahasiswi di Kampus dan dalam waktu satu tahun itu juga mereka mengumpulkan banyak orang yang mengidolakan empat gadis yang menajadi mahasiswi dengan IP terbaik pada jurusan masing-masing. Itulah yang membuat mereka begitu terkenal, selain cantik mereka juga pintar dan ramah. Benar-benar tipe cewek idaman masa kini. Meskipun mereka tidak aktif pada keanggotaan UKM manapun, tapi empat cewek dengan huruf ‘R’ sebagai awalan nama mereka itu tidak membuat mereka kehilangan pamor.
***
Siang ini galz sedang berkumpul di kantin. Hari ini mereka memakai baju dengan warna sama yaitu jingga. Rambut merka pun di model sama, kucir kuda dengan tali warna ungu. Hari ini mereka kompak memakai sepatu ketz warna senada dengan tali rambut. Dandanan mereka memang selalu modis. Lagipula mereka juga cantik. Meskipun cantik dan menarik memang berempat masih jomblo. Tidak ada yang tahu kenapa cewek-cewek cantik ini memilih untuk jomblo padahal tidak sedikit cowok yang rela antri untuk menajdi pacar mereka. Seperti siang ini di kantin, di sekeliling meja mereka banyak sekali cowok-cowok yang duduk dan memandangi mereka.
“ galz, hari ini nonton yuk. Da film baru tuh di 21” Rere memulai membuka pembicaraan.
“ gue sih, ikut kuliah gue hari ini uda selesai kok. “ Risma menanggapi, sambil sibuk membalas sms. Dari tadi matanya tidak beralih sedikit pun dari hp-na.
“ mau nonton yang berapa? Gue kan ada kuliah jam 3. “ Rasya menimpali juga.
“ terserah aja se, yang jam 6 juga oke. Atau gga nonton juga gga papa-lah. Yg penting maen.” Jawab Rere, sambil melirik ke semua temannya.
“ lo kenapa Re, Stress?” Ria yang paling peka pun curiga dengan maksud ajakan Rere. Rasya dan Risma pun seakan tersadar dan mulai mengalihkan pandangan mereka ke arah Rere.
“ eh kalian apa-apaan se. gue gga papa lagi. Beneran. Gue Cuma pengen maen aja ma kalian. Uda lama de kita gga hang-out bareng. Masa kalian gga kangen se? “ Rere yang merasa diperhatikan pun langsung gelapan mengklarifikasi pikiran teman-temannya yang pasti sudah mengira yang aneh-aneh.
“ tunggu bukannya tiap hari kita uda bareng-bareng trus ya?! Kita tinggal serumah pula. Masa mau kangen kumpul-kumpul se Re, gue kurang ngerti de.” Risma yang biasanya lemod pun unjuk kebolehannya dalam kelemodnya kali ini.
“ Ya ampun Ria sayang, maksud Rere ntu dia kangen jalan-jalan bareng kita ke mall. Kangen photo box bareng kita. Kangen shoping bareng kita. Getolah. Ngerti gga?” Rasya yang selalu gemas dengan Rere pun menjelaskan dengan setengah jengkel setengah sabar.
“ Mmmmm. Rere benar juga ya. Terakhir kita jalan ntu minggu terakhir bulan kemaren. Kayaknya sebulan ini tugas kampus mang gila-gilaan de. Ide Rere boleh juga, gga ada salahnya jalan refresh otak kita. Sekalian kita uda lama juga gga jalan bareng. Bener de, gue juga kangen. Gue se setuju Re. Risma, Rasya gimana?” Ria pun mengambil alih pembicaraan.
“ Setuju…!!!!!!!!!!” jawab Risma dan Rasya kompak.
Dan empat gadis itu melanjutkan makan siang mereka dengan membicarakan berbagai persiapan untuk hang-out mereka nanti sore.
Dan tanpa mereka sadari ternyata pembicaraan mereka di dengarkan oleh seorang laki-laki yang tanpa mereka sadari dari tadi sudah memperhatikan Galz, dari meja sebelah.
***
Laki-laki itu bernama Dimas. Dia adalah laki-laki yang akhir-akhir ini menjadi pembicaraan di kampus, karena baru saja selesai menyelesaikan satu film-nya yang di sutrdarai oleh Riri Riza. Dan parahnya itu adalah film pertama sekaligus sebagai debut pertamanya sebagai artis. Wajahnya yang tampan di tunjang dengan latar belakangnya yang merupakan cucu dari actor ternama pada masa bapak-bapak kita masih muda membuat Dimas tidak hanya jadi perbincangan di kampus tapi bahkan dia di gadang-gadang menjadi actor ternama nantinya, hal itu seakan langsung di setujui Riri Riza dengan membuatkan film pertamanya. Dimas yang mendadak jadi idola kampus itu sebenarnya adalah anak yang pendiam dan sedikit pemalu. Dia kurang pandai bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Jadi kemanapun dia pergi dia selalu sendiri. Orang-orang di sekitarnya menganggap Dimas adalah pemuda yang mandiri, yang tidak mau tergantung dengan orang lain. Dan entah siapa yang memulai tiba-tiba banyak yang menjulukinya “Pangeran tampan nan Dingin”. Julukan yang aneh dan tentu dan sebenarnya sangat menjijikan. Tetapi Dimas diam saja diperlakukan seperti itu. Dan itu semakin menambah daya tariknya. Cuek. Padahal sejujurnya Dimas tidak punya keberenian untuk mengomentari hal itu.
Dimas sebenarnya sudah sejak lama memperhatikan Galz. Awalnya Dimas memperhatikan Galz sama seperti alasan kebanyakan laki-laki memperhatikan Galz, tentu saja karena Galz cantik dan menarik. Tapi sudah sekitar 4 bulan ini, yang dia perhatikan dari Galz adalah karena di sana ada Rasya. Yah Dimas menyukai Rasya. Perasaan itu semakin hari semakin besar. Dan karena Dimas tidak memiliki keberanian bahkan untuk sekedar menyapa Rasya maka yang dia lakukan untuk mengespresikan rasa cintanya adalah dengan sebagai penguntit. Tanpa ada yang mengetahui bahwa selama 4 bulan ini Dimas selalu melihat Rasya dari jauh, memperhatikannya. Bahkan Dimas diam-diam membantu Rasya. Pernah suatu ketika Rasya lupa mengerjakan tugas yang seharusnya dikumppulkan hari ini, karena Rasya adalah gadis yang heboh saat panic alhasil semua orang di sekitarnya pun melihat dan tentu Dimas yang ada di sekitar situ pun mengetahuinya. Dengan sigap Dimas pun segera membuatkan tugas tersebut dan memberikanya pada Rasya dengan cara meletakan diam-diam di dalam tas Rasya saat dia sedang pergi. Selain itu Dimas juga pernah diam-diam meletakan payung di loker Rasya ketika hujan turun dan Rasya lupa membawa payung. Dan masih banyak lagi hal-hal kecil yang dilakukan Dimas untuk Rasya. Dan Rasya tidak pernah mengetahui bahwa selama ini ada pangeran tampan yang diam-diam membantunya. Yang diam-diam mencintainya, Rasya selalu berpikir bahwa semua bantuan itu terjadi karena dia beruntung saja.
***
Sebenarnya awal dari munculnya Rasa cinta Dimas pada Rasya masih berhubungan dengan peristiwa satu tahun lalu. Jadi tahun lalu, ketika Galz dan Dimas masih menjalani masa-masa adaptasi di kampus baru. Sebenarnya terjadi suatu kejadian yang membuat hati mereka terikat satu sama lain. Kejadian itu berawal dari ketika itu Dimas yang pemalu datang ke kampus dengan mengendarai sebuah mobil. Saat itu dia baru saja selesa memparkir mobilnya tapi tiba-tiba dari dalam mobil, Dimas mendengar seseorang bertengkar dengan suara yang begitu keras.
“ semua gara-gara lo, Sya.” Suara 1 berbicara dengan keras, dan di sekilingnya terdengar suara sesenggukan menangis. Tidak jelas siapa yang menangis, apakah orang kedua yang di ajak berbicara, teman yang lain, atau bahkan dua-duanya karena Dimas merasa tidak mungikn suara satu orang sekeras yang dia dengar. Saat itu Dimas tidak tahu harus berbuat apa, dia kebingungan dan sebenarnya dia agak takut. Jadi di memutuskan untuk tinggal di mobil, menanti sampai pertengkaran itu selesai. Tidak peduli apakah itu akan membuatnya ketinggalan kuliah.
“ Gue!!!. Lo nyalahin gue Re.!!!!.” sekarang terdengar suara 2, menanggapi suara pertama. Dia juga berbicara dengan keras dan jelas. Tidak ada tanda-tanda dia menangis. Jadi pasti ada orang lain yang menangis. Minimal dua orang yang lain menangis. Dimas makin mantap untuk tidak keluar dari mobil. Dia sudah membayangkan bahwa ada tawuran di luar sana. Dimas yang pada dasarnya paranoid pun tiba-tiba berkeringat. Entah kenapa jantungnya, berdebar.
“ ya memang lo yang salah kan!!!!.” Suara pertama kembali menimpali dengan suara yang lebih tinggi.
“ lo memang penghianat, Sya. Lo anggap apa persahabatan kita.” Kali ini ada sedikit getar pada suara pertama, dapat di pastikan sebentar lagi dia akan menangis. Sedangkan dua orang yang lain malah makin keras saja mengeluarkan air mata. Dimas di dalam mobil entah kenapa latah panik, dan berkeringat makin banyak.
“ Cukup.!!!!!!!!!!!!!!” Kali ini salah satu diantara dua orang yang menangis membuka suara. Sambil sesenggukan dia berbicara “ seharusnya kita gga perlu bertengkar seperti ini. Kita udah 3 tahun jadi sahabat, dan seharunya persahabatan itu tidak semudah ini retak. Masalah yang kalian hadapi itu sepele.”
“ yah semua gga akan terjadi kalo tuan putrid kita ini, gga sok kecantikan. “ suara pertama kembali berbicara dengan nada sombong, meskipun sekarang jelas terdengar dia menangis.
“ jangan panggil gue tuan putri!!!!” kali ini suara kedua membela diri.
“ lo memang tuan putri kan?! Mentang-mentang lo kaya raya. Mentang-mentang lo kasih kita tempat tinggal, trus lo bisa seenaknya aja mencampuri kehidupan kita.” Dengan menangis suara pertama menjelaskan.
“ Demi Allah Re, gue gga pernah berpikir begitu” kali ini sambil menangis juga suara pertama menajawab.
“ tapi buktinya memang seperti itu kan?” suara pertama masih bersih keras memojokan suara kedua.
“SUDAH CUKUP!!!!” kali ini dengan suara yang sangat keras, suara terakhir yang dari tadi menangis membentak teman-temannya. Dan tanpa sadar, karena mungkin terlalu kalut dia berteriak sambil membanting sesuatu, hingga terdengar suara barang pecah.
“PYAAAAAR.”
Dimas, yang sejak tadi cemas di dalam mobil pun kaget mendengar suara barang pecah. Tiba-tiba jantungnya yang sejak tadi sudah berdebar, semakin cepat saja. Keringat dinginnya bertambah. Kepalanya pun perlahan mulai sakit. Pandanganya mulai gelap. Dimas meraung dalam sakit di kepalanya yang ternyata sudah tidak dapat ditorelir lagi. Dan tiba-tiba saja semua sudah menjadi gelap. Dimas pingsan.
Ketika bangun, tiba-tiba sudah berada di rumah sakit. Berbagai selang menempel di tubuhnya. Dan samar-samar Dimas melihat ibunya menangis di sebelahnya. Sambil berkata
“ Dimas…..akhirnya kau membuka mata-mu juga nak….”
“ Dokter, dok….dok. anak saya sudah sadar dok.” Dimas melihat ibunya berlarian ke sana- kemari terlihat sangat panic. Tidak beberapa lama seorang dokter muda masuk, dan memeriksa Dimas, lalu berkata.
“ Alhamdulillah, bu’ anak Ibu sudah selamat. Dia sudah siuman. Mungkin beberapa hari lagi dia bisa keluar dari rumah sakit. “ kata dokter muda itu pada ibu Dimas.
“ Terima Kasih Dok. Terima Kasih” kata ibu Dimas sambil menangis-nangis. Lalu dokter itu pergi. Setelah dokter itu keluar, Ibu Dimas pun mengalihkan perhatiannya pada anak semata wayangya Dimas.
“ Kamu, baik-baik saja nak?” Tanya Ibu Dimas pada Dimas dengan sangat lembut.
“ kenapa Dimas bisa ada di sini, ma. Sebenarnya apa yang terjadi pada Dimas ma??”
Tanya Dimas meminta penjelasan tentang semua yang terajadi.
“ Anaku saying, apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu.” Bujuk ibunya yang tidak tega melihat kondisi anaknya yang masih sangat lemah.
“ ma, Dimas penasaran. Ayolah ma, lagipula Dimas hanya mendengarkan. Tidak akan terlalu capek kan.” Dimas mulai merajuk pada Ibunya.
“ yasuda mama cerita, tapi kalau ada yang membuat kamu bingung jangan terlalu di pikirkan ya. Semua sudah berlalu sayang dan kamu harus banyak-banyak istirahat kan. Janji?” Ibu Dimas, memberi sarat.
“Terserah mama saja-lah.” Dimas pun mengiyakan.
“ Jadi begini sayang, sebenarnya kamu sudah tidak sadarkan diri selama 3 hari.” Ibu Dimas memulai ceritanya.
“Tunggu!!!! 3 hari, ma???. Kok lama banget” Dimas langsung menyeletuk, kaget.
“ Dimas biar mama, selesai cerita dulu dong. Masa baru mulai udah di potong se. “ Ibu Dimas pun memprotes lagi.
“ ke-oke ma. Maaf. Maaf . jadi gimana?”
“ Yah, begitulah Dim, awalnya mama di tempat kerja saat itu. Tepat ketika mama, selesai rapat direksi. Tiba-tiba ada telepon dari seseroang bernama Rasya. Awalnya mama, tidak mau menerima telepon itu, mama piker pastilah dia orang iseng. Lagipula mama tidak kenal ini. Tetapi gadis itu memaksa bahkan kata sekretaris mama gadis itu sampai menangis-nangis Dim. Akhirnya mama mengalah juga. Ternyata maksud dari telepon gadis itu adalah untuk memberitahukan pada mama, kalau kamu masuk rumah sakit. Karena kamu ditemukan pingsan di dalam mobil mu sendiri. Kata dokter sebenarnya kamu Cuma pingsan karena panic saja. Tapi memang butuh waktu lama untuk kamu siuman. Begitulah sayang yang mama tahu.” Kata ibu Dimas menjelaskan dengan panjang lebar. Kemudian suasana hening.
Pikiran Dimas mulai menerawang, perlahan tetapi pasti Dimas mulai mengingat kejadian sebelum dia pingsan. Dia ingat saat itu dia memang berada di parkiran. Di dalam mobilnya. Dia tidak berani keluar karena ada beberapa orang yang sedang bertengkar. Tapi semua masih belum begitu jelas bagi Dimas.
“ Ma, jadi yang mengantar ku ke rumah sakit itu perempuan bernama Rasya ya?” Tanya Dimas.
“ Entahlah, Ketika mama di sini sudah tidak ada siapaun. Mungkin saja iya. Atau jangan-jangan Rasya itu pacar kamu ya?” ibu Dimas malah meledek.
“ Ah.. mama ngaco. Dimas belum punya Pacar ma.”
***
Sejak kejadian itu diam-diam Dimas mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan belakangan Dimas tahu bahwa ternyata yang saat itu adalah Galz. Dan yang mengantarnya ke rumah sakit adalah Rasya. Hanya Rasya. Dimas juga tidak tahu kenapa hanya Rasya yang mengantarnya ke rumah sakit. Yang jelas karena hal itu lah Dimas diam-diam mengangggapnya sebagai Dewi penyelamat. Dan entah perintah dari siapa diam-diam Dimas berjanjji akan selalu melindungi sang dewi. Dimas berpikir bahwa sebisa mungkin dia berada di dekat Rasya. Seperti kali ini Dimas pun berada dalam satu mall bersama Galz. Sebenarnya Dimas tidak pernah jauh-jauh dari Galz. Tapi entah mengapa Galz tidak memperhatikannya.
“ mau makan apa Glaz?” Rere bertanya kepada tiga temanya yang lain. Ketika mereka sedang berjalan-jalan setelah menonton tadi sore.
“ Yang murah aja de….kantong lagi tipis ni.” Ria member saran.
“ Steak aja lah yang standard. Rasa enak dan harga ga mahal” Kali ini Rasya memtuskan.
Dan semua pun langsung setuju. Kaki mereka pun reflek berjalan ke arah restoran steak ada mall itu. Selama perjalanan empat gadis yang kali ini memakai baju dengan warna pink itu bercanda sambil mengobrol kesana kemari tanpa menyadari bahwa sebenarnya ada seseorang yang mengikuti mereka.
Sesampainya di restoran, mereka sengaja mengambil meja yang dekat dengan toilet, agar jika make up yang mereka sedikit luntur bisa langsung dibenahi. Empat gadis yang sangat modis itu memang sangat menyukai dandan. Bahkan mereka sengaja menyisihkan uang jajan untuk biaya make up. Setelah duduk, mereka pun segera memesan pesanan pada pelayan. Dan sambil menunggu pesanan mereka, Rasya membuka pertanyaan
“ Galz, gue mau curhat nih.”
“ Nape lo? Lo dikejar-kejar cowok lagi?” Tanya Rere tiba-tiba dengan sinis pada Rasya.
“ Bukaaaannn…. Ah Rere sirik aja bawaannya ma gue. “ Rasya pun membela diri.
“ Iya Re. udahlah, mau curhat apaan sya?” kali ini Ria menenangkan.
“ oke-oke. Maaf. Gue Cuma bercanda lagi. Da paan Sya?” Rere pun sekarang ikut mendesak.
“ Mmmmm. Tapi kalian jangan marah ya. Sebenarnya ini uda lama terjadi. Maaf gue baru bisa cerita sekarang. “ Rasya pun memulai ceritanya.
“ yah asal lo gga melanggar perjanjian kita se, ga papa lagi sya. Ma kita-kita ini. “ Risma yang tidak sabar mendesak Rasya.
“ oh gga kok, gue ga melanggar perjanjian kalian nyante aja.” Rasya kembali terdiam lagi, seakan bingung bagaimana memilih kalimat.
“ iya, trus apaan dong sya????” Risma kembali tidak sabar.
“ Iyaa sya, jangan lama-lamaan gitu dong.” Kali ini diikuti oleh kedua temannya yang lain yang tidak sabar. Hamper bersamaan Ria dan Rere mengucapkan kalimat yang sama persis.
“ oke de, gini galz. Sebenarnya uda beberapa bulan ini gue ngerasa kalo ada yang ngikuti gue dari belakang gitu . Ada yang diam-diam memperhatikan gue gitu.” Rasya pun bercerita.
“ perasaan lo aja kali.” Rere berkomentar.
“ gga kok, beneran. Banyak buktinya lagi.” Rasya mulai memperkuat ceritanya.
“ maksud lo, penguntit gitu Sya?” Ria yang bijak pun menyimpulkan.
“ Ihhhhhhh…..Takut.” Risma nyeletuk berkomentar.
“ Iya, semacam gitu-lah. Gue jadi takut sekarang kalo kemana-mana sendirian. Gue jadi ga ngarasa aman gitulah.”
“ tapi sejauh ini dia pernah merugikan lo gga Sya?” Rere mempertegas masalahnya.
“ Ya engga se, sebenarnya gue malah kadang-kadang merasa dibantu oleh dia. Tapi kan gue takut juga, gue jadi ngrasa gga bebas aja.” Rasya mulai mengungkapkan perasaannya.
“oke Sya, tenang. Selama ada kita lo aman. Uda gga usah di pikirin Sya. Paling-paling lama-kelamaan orang itu bakal cape sendiri.” Rere pun menengkan sahabatnya.
“ Iya Sya, yang peting lo gga di apa-apain. Anggap aja bantuan dari orang lain, tapi kalo lo uda bener-bener ngrasa risih ato kalo ntu orang berani ganggu lo. Kita bakal bantuin lo buat ngeberesin ntu orang. Key. “ Ria menambahi.
“ Iya Rasya, semangat. Ga boleh kalah ma penguntit.” Risma pun ikut-ikutan memberi semangat.
“ Thx, Galz kalian memang sahabat-sahabat terindah yang pernah aku miliki.” Rasya tidak tahan menahan rasa yang begitu gembira memiliki sahabat yang selalu ada untuknya.
“ Galz aku ke kamar mandi dulu ya.” Rasya pun pamit ke toilet, karena maskaranya hampir luntur gara-gara tadi sempat terharu.
“ Mau di temeni gga Sya?” Tanya Rere spontan.
“Ga, deket ini ma kalian.” Jawab Rasya sambil berlalu ke kamar toilet, yang hanya berjarak beberapa meter dari meja tempat Galz duduk.
Di dalam kamar mandi, Rasya segera membenahi maskaranya. Dengan detail dia menatap kaca besar di depanya. Ketika dia sedang serius memberesi make up-nya. Tiba-tiba ada siluet wajah yang mendekatinya dari belakang, karena kaget Rasya pun langsung teriak sekencang-kencangnya.
“ Aaaaaaaaaaaaaaaa,”
“ Tenang-tenang sya. Gue Dimas Sya, Gue Dimas, lo pasti inget gue kan Sya. “
“ Ga siapa lo!!!”
“ Sya, gue yang selama ini memperhatikan lo dari jauh. Gue yang selalu menyiapkan payung buat elo, kalo lo lupa. Gue yang ngerjain tugas lo kalo lo lupa. Gue yang selalu ada buat lo kalo lo ada masalah. Masa lo ga tahu semua itu Sya. “
“ Jadi selama ini……”
“ DuaaaRRR”
Tiba-tiba pintu kamar mandi sudah terbuka, dan Anggota Galz yang lain diikuti beberapa karyawan restoran pu menyeruak masuk. Sesaat mereka terkaget melihat Dimas berada dalam kamar mandi itu. Dan dengan segera pun Dimas di seret keluar, dengan diiringi maki-makian laki-laki yang karirnya baru saja menanjak karena kesuksesan berakting di Film perdananya. Galz pun tidak jadi makan di situ. Makanan yang tadi di pesan langsung di bayar tanpa di sentuh. Dan akhirnya mereka pun pulang. Menanti penjelasan dari Rasya tentang apa yang terjadi di kamar mandi. Dan sebenarnya apa hubungannya dengan Dimas.
***
“ Gue sayang ma lo, Sya.” Kalimat Dimas terdengar begitu berat. Dia hari ini dandan begitu rapi. Begitu pula dengan Rasya dia memakai gaun malam yang indah dengan make up yang membuatnya tampak seperti bidadari. Sudah lewat seminggu sejak kejadian itu, dan sekarang jelas semuanya. Bahwa ternyata yang selama ini menguntit Rasya adalah Dimas. Awalnya Rasya marah pada Dimas tetapi setelah dipikir-pikir sungguh sangat tidak bijak marah pada orang sebelum memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Jadi malam ini, Rasya meminta Dimas untuk ketemuan. Karena Dimas berpikir bahwa ini adalah saatnya untuk mengungkapkan perasaannya, maka Dimas sengaja merancang sebuah dinner yang sangat romantis.
“ Gue uda suka sama lo. Sejak 4 bulan yang lalu Sya, tapi karena gue penakut maka selama ini gue hanya berani buat melihat lo dari jauh. Diam-diam menjaga lo Sya. Gue serius Sya.” Dimas kembali menjelaskan. Dia sendiri heran malam ini. Entah ada kekuatan apa, yang membuatnya begitu berani. Diam-diam di menyesal kenapa tidak dari dulu saja dia memiliki keberanian sebesar ini. Padahal lega sekali bisa menngungkapkan perasaan. Tapi Rasya tetap diam saja. Seperti ada sesuatu yang dia pikirkan, jadi Susana begitu hening hanya ada suara alunan biola yang dari tadi mengiringi mereka berdua. Lalu tiba-tiba Rasya memecah kesunyian
“ Kok lo, bisa suka ma gue Dim?”
“ Gue juga ga tahu Sya. Pokoknya sejak gue tahu bahwa lo adalah orang yang menyalamatkan hidup gue, dengan membawa gue ke rumah sakit. Saat gue pingsan di dalam mobil, satu tahun lalu. Gue langsung percaya bahwa lo adalah sang dewi yang dikirimkan Tuhan buat gue Sya.” Dimas pun bercerita.
“ Maaf, Dim.”
“ Kenapa Sya?”
“ Dim….. lo tahu. Lo suka gue karena kejadian itu, tetapi justru karena kejadian itu juga gue ga bisa jadian ma lo. “ Rasya mulai memberikan jawaban.
“ kenapa?” Dimas pun meminta penjelasan.
“ Dim….. sebenarnya saat itu gue sedang bertengkar dengan Galz karena masalah cowok. Gue dan Rere suka pada satu cowok yang sama. Tetapi cowok itu memilih gue. Karena itu Rere marah ma gue. Sejak saat itu Galz berjanji bahwa untuk sementara ini kita ga akan pacaran dulu, karena bagi kita cowok itu bisa menghancurkan persahabatan.” Rasya menjelaskan sambil menundukan kepalanya. Tidak berani melihat Dimas, tidak berani mengakui bahwa sebenarny dia juga selama ini menyukai orang yang diam-diam menguntitnya.
“ Tapi itu ga fair, Sya. Ga semua cowok seperti itu. Kalian jangan seenaknya men-judge bahwa semua cowok itu brengsek. Gue janji gue cowok baik-baik Sya. Gue serius ma lo Sya. Gue ga bakal bikin lo nangis.” Dimas pun protes dengan alasan Rasya yang dia piker ga masuk akal.
“ Gue tahu itu Dim, gue tahu perjanjian itu konyol. Kekanak-kanakan. Tapi mau bagaimana lagi. Kita uda terlajur janji. Dan kalo dengan menepati janji itu persahabatan gue dan Galz bisa bertahan maka gue akan memilih untuk melakukan itu Dim.” Kali ini air mata Rasya pun tak kuasa untuk tidak menetes.
“ Sya. Gue akan tetap nunggu lo. “ Dimas pun akhirnya menerima alasan Rasya.
Dan malam itu pun semakin larut. Bintang bersinar sangat terang seakan menghibur dua insan yang saling mencintai harus memilih jalan untuk sendiri.
| FIN |
Bandung, 17 Desember ‘08
D.Arifianti

4 komentar:
mmm...ceritanya bagus..
tapi da sedikit kritikan juga.
1. kalo bisa yang bagian singkatan SC,UKM tu dikasih kepanjangannya..kalo semisal yang baca mahasiswa kan pasti tau..tapi kalo bukan mahasiswa kan kemungkinan ada yang belum tahu.ntar bingung deh..
2. agak dikasih "sesuatu" yang menggambarkan ciri khas dari cerpen kamu..
yan..
jago nulis euy temen saya ni!!
ada kritik.bagus.enteng enak dibaca.tapi belum ada greget
btw.ngelink ya...
zha :
1. oke" zha, saya lupa masalah teknis gitu padahal. haihai. besuk" gga lagi de.
2. maksudnya zha? tolong jelaskan lbh detail. ntar sya bguru sama u dulu yup.
Arigato pokoknya. Hhe.
Anandita :
sipp. nie jga baru blajar bwt cerita yg bisa punya greget. bantu doa yup.
arigato ta, da mo baca cerita sya.
Posting Komentar