Jumat, 22 Mei 2009

Kado Terakhir Untuk ku. . . .

“ Kamu sakit kanker darah stadium empat Tar. Umur kamu ga akan lebih dari 5 bulan.”

Kalimat itu mengiang di kepala ku keras sekali. Di sekitarku aku mendengar ibu dan ayahku menangis. Bahkan ibuku berteriak-teriak. Ayah ku dengan panik mencoba menenangkan beliau. Sedangkan aku, masih tegap duduk di kursiku. Mataku kosong. Aku tidak menagis saat itu karena aku terlalu bingung.

Aku masih 18 tahun. Aku baru saja diterima di PTN idamanku. Dan sepertinya baru kemarin aku dan teman-teman merencanakan hal-hal gila di kampus baru kami. Tapi kalimat tadi, kalimat yang keluar dari dokter yang masih sangat muda yang sekarang duduk dengan kepala tertunduk didepanku, seperti menghancurkan semuanya. Sesaat itu aku merasakan mimpi-mimpi dan Teman-teman ku pergi menjauh. Sesaat itu aku merasa bahwa hidupku telah berakhir.

∞∞∞∞

Sejak mengetahui bahwa umurku tidak lama lagi. Aku memutuskan untuk meninggalkan semua yang aku miliki saat itu. Aku tidak pernah masuk di Universitas yang sudah selama 1 tahun kelas 3, aku perjuangkan. Aku tidak pernah lagi menghubungi teman-teman ku lagi. Bahkan aku memutuskan untuk meninggalakn kota kelahiran ku. Aku memilih Bandung, karena pengobatan di sana tidak kalah bagus dengan di tempat dulu. Jakarta. Orang tua ku setuju menemaniku. Karena kebetulan aku adalah anak tunggal. Bisa dipastikan apapun yang aku inginkan apalagi mengingat kondisiku sekarang pasti mereka menyetujuinya.

Di kota baru ini, aku tetap kuliah. Di salah satu kampus swasta terbaik di kota ini. Aku menjalani hari-hari biasa layaknya seorang mahasiswa. Aku datang kekampus, mengerjakan tugas dari dosen, dan mengikuti ujian. Selain itu setiap 2x dalam seminggu aku masih harus cuci darah di Rumah sakit. Setiap cuci darah aku selalu merasa diingatkan bahwa Umur ku tidak akan lama lagi.

Aku hidup normal. Dan hampir selama di bandung ini aku tidak pernah menangis. Aku selalu berusaha untuk tegar. Paling tidak dihapadapan orang tuaku, yang selalu aku mendengar mereka menagis di malam hari, aku harus tersenyum. Kurang lebih sudah 3 bulan aku tinggal di Bandung. Hasil ujian tengah semester menyatakan nilaiku sangat baik, ini membuat orang tua ku tenang. Mereka merasa bahwa aku baik-baik saja tapi mereka sebenarnya tidak tahu bahwa aku mencoba untuk kuat selama ini, menahan perasaan ku. Dan menjadikan belajar sebagai pelarianku. Aku hampir tidak punya teman di kampus, karena aku tidak pernah mau mencari teman. Bagiku sudah cukup orang tuaku yang begitu menderita melihatku sakit. Melihat orang yang sangat kita sayangi menangis karena kita, benar-benar menyakitkan. Dengan alasan itulah dulu aku memutuskan meniggalkan teman-temanku dan dengan alasan yang sama aku tidak mau mencari teman lagi di sini, karena aku tidak ingin melihat air mata mereka.

Keputusan ku yang menutup diri dari pergaulan, membuatku menjadi seorang anak yang kuper. Aku hampir tidak mengenal orang-orang di kampus ku, dan sudah pasti aku juga tidak di kenal mereka. Tetapi entah mengapa justru di saat aku menutup diri, aku malah mencintai seseorang, ada satu orang yang sangat menarik perhatianku, saat pertama daftar ulang di kampus ini. Seorang laki-laki mungkin aku mencintai laki-laki itu pada pandangan pertama. Sudah selama tiga bulan ini menyimpan baik-baik perasaan ku. Aku sadari dia tidak tahu keberedaan diriku. Dan aku hanya diam-diam memperhatikannya. Tempat favoritnya adalah tempat parkir mobil, aku sering sekali melihatnya sekedar nongkrong bersama teman-temannya di dalam mobilnya. Kebetulan lokasi tempat parkir motor dan mobil dekat, jadi saat aku memparkir motor dan mengambilnya aku selalu sengaja berlama-lama hanya untuk sekedar melihatnya. Konyol. Yah, dan kalau dipikir-pikir mungkin itu satu-satunya hal normal yang aku lakukan.

Meskipun aku tidak pernah keberanian untuk mengungkapakan perasaanku pada laki-laki itu. Aku terus mencari tahu tentangnya. Dari hasil obserbvasiku yang valid, akhirnya aku menemukan bahwa namanya adalah Riza Fasto Adrian. Dia adalah anak tunggal pemilik kerajaan bisnis di kota ini, keluarga Adrian. Kaya, rupawan, dan pintar, sudah cukup membuatnya menjadi begitu popular di kampus ini. Bahkan entah sejak kapan dia tiba-tiba sudah dinobatkan sebagai cowok most wanted di kampus bernunsa teknik ini. Sekarang statusnya jomblo, tapi aku berhasil mengetahui juga bahwa dia sedang menyimpan cinta pada salah seorang teman sekelasnya. Gadis berjilbab, cantik, dan putih, bernama Risa Triali. Kabar yang beredar di kampus adalah Riza sudah 2x menembak Risa dan 2x juga Risa menolak Riza. Tidak ada yang tahu apa alasan Risa menolak laki-laki yang didamba oleh hampir seluruh perempuan di kampus ini, jelaslah status Risa sekarang menjadi perempuan tidak tahu diuntung, entah dari mana julukan itu tapi , aku sangat setuju dengan pendapat itu. Jujur saja aku benar-benar iri dengan nasib Risa, mengingat nasibku sekarang hanyalah sebagai secret admirer yang tidak pernah di kenal oleh Reza.

∞∞∞∞

“ Tari, kau sudah sampai????” Sapa laki-laki separuh baya yang sudah 6 bulan ini aku panggil sebagai Dokter Rio. Dialah dokter yang bertanggung jawab mengurusiku saat di bandung. Aku sangat bersyukur mendapat dokter Rio, karena Dokter tersebut tidak pernah menganggap ku sebagai anak yang malang dan menangis setiap kali melihat ku, di memperlakukanku layaknya seorang pasien. Ketegaran ku juga belajara darinya.

“ Sebaiknya kita cepat karena dokter ada operasi jam 12 ini. Ah ya, biar suster Amalia yang membantu mu. “ lanjut dokter itu.

Aku yang baru saja masuk ke ruangan yang sudah sangat aku kenal itu pun, hanya tersenyum membalas sapaanya, lalu kemudian aku bergegas menjalankan petunjuknya, mencari suster amalia di ruang ganti. Ketika akhirnya aku menemukan suster amalia di sebuah kamar di ruangan itu, aku melihatnya tersenyum padaku. Dengan senyum yang terlihat sekali dipaksakan untuk sewajar mungkin.

“ Sudahlah, jangan terlalu di paksakan. Aku tidak papa sust, “ hiburku padanya ketika dia mulai membantuku memakai piama pasien.

“ Maaf…aku, aku hanya….” Dia tergagap menjawabku. Matanya kini mulai berair.

“ Tidak apa-apa. ini adalah takdirku, dan sepertinya aku mulai terbiasa dengan semua ini. Sudahlah Sust. “ kini aku mulai menenangkannya.

“ ayo sust, nanti dokter Rio lama menunggu. “

Lalu kami keluar, menuju ruangan yang tadi. Ruangan yang berisi dengan berbagai alat yang selalu membuatku gemetar ketika melihatnya, bahkan ketika aku sudah cukup lama menggunakannya. Dokter Rio berdiri tenang di dekat alat tersebut. Aku hanya terdiam melihatnya, dan ketika dia menyadari kami telah siap, dengan senyum dia melihatku.

“ Sudah siap, Tar. Lia tolong bantu ya… Irfan dan Tasya juga akan membantu. “ dia berkata lembut sambil memperkenalkan suster-suster lain yang dari tadi mengecek alat.

“ Kamu tidak boleh menangis di depan pasien Amalia, bagaiamana kamu akan menguatkan pasien kalau kamu sendiri cengeng seperti itu.” komentar dokter Rio selanjutnya. Pandangannya lurus mengarah pada suster yang berada di belakangku. Pastilah suster Amalia sekarang sudah berurai air mata. Selalu begitu selama 6 bulan terakhir ini.

“ Oke , Tar….ayo. cepat saja.” Perintah dokter Rio.

Dan aku pun berjalan menuju takdir yang menimpaku sejak 6 bulan lalu. Takdir yang mefonisku kanker darah dan aku harus melakukan cuci darah 2x dalam seminggu. Aku memang sudah mulai terbiasa dengan kondisi ini, tetapi terkadang aku masih berpikir seandainya aku masih bisa memilih.

∞∞∞∞

Suatu pagi di kelas kalkulus. Aku datang lebih awal dari biasanya, kelas masih sangat sepi. Hanya ada aku di kelas tersebut ku, putuskan untuk duduk di kursi paling depan, tepat dengan meja dosen. Kursi favoritku.

“ tumben uda datang?” tiba-tiba suara yang begitu ramah mengaggetkanku. Sontak aku menoleh ke arah asal suara. Ternyata dia adalah seorang laki-laki berbadan tegap, sangat tegap malam, sampai-sampai aku yakin dulu dia pernah ikut paskibraka di sekolahnya. Tapi sudahlah itu tidak penting. Yang jelas aku tidak mengenal pria ini. Mungkin dia adalah teman sekelasku, tapi mungkin juga hanya orang iseng yang lewad.

“ gue anak kelas ini….lo gga tahu ya???” laki-laki itu berbicara lagi menjawab pertanyaanku di wajahku saat melihatnya. Aku pun menggeleng. Laki-laki tersebut hanya menggeleng-geleng kepalanya menanggapi sambil berjalan ke belakang kelas. Melewatiku yang masih memperhatikannya.

“ parah lo, kita kan…hampir 3 bulan ini sekelas. Makanya kadang-kadang noleh dong. Di belakang juga banyak kali yang lebih ganteng dari dosen kita…Hhehehe.” Dari ujung belakang laki-laki itu berbicara dengan cukup keras. Sambil menoleh aku melihatnya duduk di kursi paling belakang, tepat satu baris dengan kursi yang aku duduki.

“ Nah…itu dia, ternyata bisa noleh juga. Kirain leher u bermasalah….Hhe.” laki-laki itu kembali berbicara. Dan aku diam saja. Aku mulai sadari laki-laki itu mencoba mengajaku mengobrol. Tapi aku sedang malas mengobrol, jadi kuputuskan untuk kembali ke posisiku, dan mengambil buku apapun di dalam tas.

“ ehh….ngambek ya?” kembali laki-laki itu bersuara.

“ kalo ngambek ngomong dong. Lo gga bisu kan???” kali ini aku dengar dia berdiri dari kursinya dan berjalan kearah ku. Aku sendiri tetap berusaha acuh. Dan tiba-tiba dia sudah duduk di sebelahku. Sekali lagi aku dibuatnya kaget.

“ gue Anto….Anto Rahmawan. “ dan laki-laki itu pun memperkenalkan diri. Aku yang masih kaget, hanya terdiam. Dan malah memandangi wajah laki-laki yang mengaku bernama Anto itu. lama. Maksudku cukup lama. Karena beberapa saat aku merasa suasana begitu senyap. Dan saat itu aku merasa ada yang aneh dengan hatiku. Entahlah.

“ Hmmmm…..gga mau kenalan nie. Yaudah. Ga papa de.” Anto pun memecah kesunyian segera. Saat itu jam sudah menunjukan pukul 06.45. kelas hanya berisi kami berdua, belum ada yang datang. Anto yang mungkin merasa aku acuhkan pun akhirnya berdiri, bermaksud kembali ke bangkunya.

“ Gue… Tari. Tari Larissa Putri.”

“ Ya-Ha… akhirnya ngomong juga.” Anto pun balik badan segera, dan langsung duduk di sebelahku lagi.

“ suara lo, gga jelek-jelek banget lo, Tar…eh bener kan Tari???” dia tampak antuasias membuka percakapan dengan ku. Aku yang tadinya malas pun, mulai berpikir tidak apa-apa sedikit mengobrol dengan Anto. Sekali lagi hatiku merasa aneh. Entah kenapa, saat Anto duduk di dekatku, aku merasa sangat nyaman.

“ Hehh…kok diem.” Anto lagi-lagi membuyarkan lamunanku.

“ ehh…. Iya…iya.”

“ Jadi gimana?....boleh gga gue duduk di sebelah lo…..????” ternyata dia bertanya padaku.

“ eh boleh-boleh....boleh aja, asal lo betah berpandangan dengan pak dosen….” Aku pun mencoba menjawab sesantai mungkin.

“ hahaha….lo asik juga ternyata ya….”

Dan Anto pun sigap berdiri, berjalan cepat kebelakang mengambil tasnya. Dan duduk di sebelahku. Ketika anak-anak yang lain sudah berdatangan, beberapa anak memasuki kelas sambil memandangi kami, eh tidak, mungkin lebih tepatnya memandangi Anto. Mungkin mereka merasa aneh ada orang yang mau duduk di sebelah ku. Entah berita apa yang sudah menyebar tentang diriku, tapi yang jelas mata mereka mengatakan Anto tidak seharunya berada didekat-dekatku.

“ Mereka mikir lo ntu autis tau ggga….” Anto sekali lagi menjawab pertanyaan dari wajahku.

“ dan aku bakal buktiin, kalo omongan mereka salah….” Dia melanjutkan. Hmmm. Kurasakan hatiku bergetar demi mendengar kalimatnya yang terakhir.

“kenapa lo bisa yakin banget gue gga autis…..?” aku pun berkata asal. Sama sekali tidak bermaksu mengujinya.

“Hahahah…..Nah ini buktinya, lo bisa ngobrol ma gue. Ya kan???” jawabnya. Dan aku pu tersenyum mendengarnya. Setelah itu Bapak Dosen masuk. Dan kelas pun sekejap tenang. Meski aku yakin tidak semua khitmad mendengarkan dosen. Bahkan sebagian besar mahasiswa di kelas ini sudah tertidur sejak 5 menit pertama si dosen masuk. Setidaknya itulah yang dikatakan Anto. Selama perkuliahan, kali ini aku tidak benar-benar mendengarkan si dosen seperti biasanya, karena beberapa kali Anto mengajakku bercerita. Dan bodohnya aku mau saja mendengarkan ceritanya, yang kalu dipikir-pikir tidak ada yang penting. Di akhir perkuliahan, aku pun hanya berhasil mencatat apa yang si dosen tulis di papan tulis dengan kondisi masih bingung di sana-sini. Yah aku tidak bisa menyalahkan Anto untuk hal ini. Jadi kami pun berpisah dengan senyuman ketika kami akan masuk ke perkuliahan berikutnya. Aku dan Anto berbeda kelas.

Hufff. Aku menghela nafas. Ada yang aneh dengan hatiku. Mungkin hatiku bahagia. Entahlah aku sudah lupa rasanya bahagia sejak penyakit kanker itu merebut semuanya.

∞∞∞∞

Sampai siang hari ketika kuliah ku sudah selesai, aku sama sekali tidak bertemu dengan Anto. Dan karena aku tidak berusaha mencari dia, jadi kuputuskan untuk langsung pergi. Aku harus kerumah sakit terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah karena semalam dokter Riyan menelepon dia ingin bicara pada ku masalah kesehatanku. Sudah bisa aku tebak pasti ini masalah umurku yang tidak lama lagi. Huffff. Dia selalu tidak pernah bosan mengingatkan ku akan hal itu.

Dengan malas aku pun berjalan ke depan kampus, bermaksud menunggu angkot yang lewad, berhubung kali ini aku tidak membawa motor. Sebenarnya bisa saja aku menyuruh Mang Udin, supir pribadi keluarga kami, untuk menjemputku. Tapi aku sedang malas naik mobil. Mungkin diriku ingin menikmati suasana angkot sebelum aku tidak bisa melakukannya lagi. Tragis.

Sendirian aku duduk di trotoar, mununggu angkot. Karena kaki ku tidak bisa dia ajak berkompromi untuk berdiri terlalu lama. Sungguh kondisi ku saat ini seperti anak jalanan saja. Hehehehe. Dan ketika aku setengah melamun ada tiba-tiba ada suara seseorang yang sudah mulai aku kenal dari belakang

“ Sendirian aja neng ??? “ Anto menyapa sambil duduk di sebelahku. Aku menoleh kaget, dan tersenyum padanya.

“ gga di jemput ya??? “dia bertanya lagi. Anto tanpa sangat kumal. Mungkin kuliah dari pagi sampai siang membuatnya berantakan.

“ kenapa lo? “

“ eh kok malah balik nanya….?? Mang gue kenapa? “

“ kok lo bernatakan gitu, abis kalkulus ya???? “

Dan anto hanya diam saja. Tersenyum kecil, menanggapi lelucon yang aku buat. Kemudian dengan wajah serius dia memandangku. Aku cukup kaget melihatnya ketika pandangannya kurasa mulai aneh, segera aku sadarkan dia.

“ wow….kayaknya kalkulus bikin lo jadi aneh ya??? “

“ Hahahahha……gga…gue ga papa. Lo sendiri pertanyaan gue belum lo jawab Tar…???? “ seperti mengelak Anto membalik pertanyaannya. Terpaksa aku jawab juga.

“ angkot.”

“ hah?!”

“ napa? Kaget gitu. Biasa aja lagi.”

“ bukanyya angkot di sini jarang ya???? Bisa satu jam sekali lho.”

“ yah, gue gga buru-buru ini.”

Kemudian kami terdiam. Wajah Anto kembali serius. Sekarang dia menundukan kepalanya dalam. Aku jadi serba salah melihat kondisinya. Aku berpikir, mungkin Anto baru saja mendapat masalah yang sangat seirus. Sepertinya tadi pagi dia nampak baik-baik saja. Bahkan semangatnya yang besar sampai menularkan energy positif pada diriku. Hehehe.

Kuputuskan untuk bertanya padanya. Tetapi ketika tepat aku akan menanyakan kondisinya, wajahnya sekejab sudah bersemangat lagi. Dan dia dengn santai kembali mengajak ku mengobrol.

“ mau gue antar pulang gga? “

“ rumah lo mana se? “ tanyanya berturut-turut.

“ jauh “ jawabku singkat

“ jauhnya mana, se? masih bandung ini kan. “

“ kalo gga di bandung , gimana??? “

“ oh…. Yasuda. Sori bensin gue Cuma buat di bandung ajjjah….”

“ Hahhhahahhha.”

Dan kami pun tertawa. Anto memang hebat. Sepertinya baru saja tadi wajahnya menunjukan bahwa dia adalah manusia paling malang sedunia. Tapi sekejap sekarang dia sudah kembali menjadi manusia paling bersemangat. Aku mulai sadari, mungkin ini yang membuatku nyaman di dekat Anto. Aku yang sudah hampir putus asa dalam hidup, seperti tertular semangatnya yang bergitu besar. Kami pun mengobrol santai sampai beberapa saat kedepan. Anto bilang dia akan menunggu ku menanti angkot. Jadi kami mengobrol apa saja. Seperti tadi pagi Anto selalu punya banyak cerita. Mungkin dia adalah BIGOS kampus ini. Hehehehe.

Sepertinya sudah 30 menit kami mengobrol, di pinggir jalan. Tertawa-tawa bersama, sampai sebuah mobil berhenti tepat di depan kami. Mobik jazz warna biru langit. Kaca mobil tersebut perlahan terbuka. Dan orang yang di dalam berbicara.

“ lo ikut pulang gga, To ??? “

Sesaat itu aku mersakan jantungku berhenti. Orang yang berbicara di dalam Mobil tersebut adalah Reza Fasto Adrian. Mobil yang berhenti di depan aku dan Anto, adalah mobil yang selama 3 bulan ini diam-diam menjadi perhatianku. Jantungku berdegup kencang, aku bingung.

Aku perhatikan mobil itu berjalan lagi, dan memparkir kepinggir di depan aku dan Anto. Orang di dalamnya Reza kembali mengeluarkan kepalanya dan dengan ayunan tangan member isyarat agar Anto segera. Anto pun langsung berdiri.

“ eh iya…gue ikut. “ Anto berteriak. Dan member isyarat pada Reza yang masih menoleh mengeluarkan kepalanya dari kepalanya untuk menunggu sebentar. Reza pun menyanggupi dan keplanya kembali masuk kedalam mobil. Anto segera menoleh ke arah ku dan berkata.

“Tar, gue duluan ya. Sori gag bisa nemenini. Gue doain deh angkotnya segera datang oke.”

Aku yang dari tadi melamun memperhatikan Reza, terkaget mendengar Anto bicara. Aku pun berusaha terilhat normal dan biasa aja, ketika kembali melihat ke arah Anto.

“sialan lo. Tunggu to, lo tadi bukanyya nawarin gue tebengan ya??? Lah lo sendiri nebeng orang….???”

“ hahaha…sori, gue tadi speak doang. Hahahaha… sori yap.”

“ anjrit lo, untung gue tadi nolak, coba kalo gue mau. “

“ hahahaha, kalo lo mau, ya gue tinggal bilang ajjah kalo gue becanda.”

“ anjrit lo….sana di tungguin ntu ma temen lo.”

“ iyah….. yuk.”

Dan anto pun pergi, menuju mobil Jazz dengan warna biru langit yang sudah memarkir di pinggir jalan tepat di depan kami. Aku hanya melihat Anto memasuki pintu belakang mobil itu, dan mobil itu pergi meninggalkan aku sendiri.

Beberapa saat kemudian aku kembali ke dalam lamunan ku. Jantung ku berdebar mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Aku tidak pernah menyangka Anto dan Reza berteman. Hal tersebut seperti sangat membuat ku bahagia. Aku tidak tahu kenapa, tetapi kejadian setelah ini mungkin adalah alasan kenapa aku bahagia. Karena belum ada limas belas menit mobil jazz itu pergi. Ternyata mobil itu berbalik menuju ke arah. Awalnya aku kaget melihatnya, aku tidak berani berpikir macam-macam. Tetapi ternyata harapan ku terkabul, mobil itu berhenti tepat di depan ku. Jendela depan dan belakang membuka bersama. Aku bisa melihat kepala Anto menyembul dari jendela belakang. Dari jendela Kepala orang yang tidak aku kenal, tetapi aku melihat orang yang duduk di depan setir mobil adalah Reza.

“ Bareng yuks. Udah sore nie. Kalo nunggu ankot u bakal pulang malem de kayaknya. “

Reza yang bicara. Aku shock mendengarnya. Dalam hati aku berdoa, jika ini mimpi aku berharap aku tidak pernah bangun.

“ kok diam aja sih???”

Reza kembali bertanya. Kemudian Anto ikut bicara.

“ Tenang, meski rumah lo di Jakarta sekali pun, Reza bakal nganterin lo kok. Ya kan Za???”

“ Hah?! Rumah lo di Jakarta????? “ Reza dan teman di sampingnya berteriak kaget bersamaan.

“ iyah, napa? Katanya tadi lo kasian. Gga tega ngelihat cewek nunggu sendirian. “

Anto pun membelaku. Menagih janji Reza.

“ Tapi…..” kali ini ada nada Ragu di suara Reza

“ ahhh….udahlah ayo Tar, naik….. cepetan.” Anto mengambil alih lagi.

Aku hanya terdiam, tidak mengerti harus bagaimana. Aku bahkan tidak tahu apa yang ada dalam otak ku sekarang. Semua begitu aneh menurutku. Aku malah berpikir bahwa mungkin hari ini adalah hari terakhir ku hidup di dunia, jadi Tuhan mengabulkan semua impian. Agar aku tidak jadi hantu penasaran nantinya. hehehehe

“ eh kok diem….iyah, de gue anter. Meski rumah lo Jakarta sekalipun.” Kali ini Reza yakin. Aku kaget, jadi supaya tidak dianggap orang bisu. Aku pun bicara juga.

“ beneran nie?? “

“ iya, dari tadi kita nungguin lo, neng.”

Dan aku pun segera membuka pintu belakang mobil. Masuk dan duduk di sebelah Anto. Di dalam mobil itu ada Anto, Reza, dan seorang teman lagi yang ternyata bernama Aziz. Ternyata Reza sudah seperti antar jemput saja, dia mengantarkan pulang teman-temannya satu-per satu ke Rumahnya. Hmmm hal yang membuatku semakin mengangguminya, karena ternyata dia orang yang baik.

∞∞∞∞

“ jadi rumah lo beneran di Jakarta nie??? “ Tanya Reza padaku. Saat itu aku duduk di sampingnya. Karena Anto dan Aziz telah di antar pulang duluan, jadi hanya aku dan dia yang tersisa sekarang.

“ Hah?!” aku kaget mendengar pertanyaannya.

Sebenarnya aku grogi karena aku tidak menyangka bisa sedekat ini dengan laki-laki impian ku selama 3 bulan ini. Jadi jujur aku sedikit salah tingkah. Tapi segera aku bisa menuasai diri, dan berusaha bersikap setenang mungkin, meski harus kuakui, jika pengdengaran Reza baik pasti dia bisa mendengar debar jantungku yang sekarang sudah mirip genderang perang.

“ Ogh….gga kok, bercanda doang. Anto aja lo percaya. Rumah gue ada di jalan suci. Deket dari sini kan???”

“ Hhahhha…… dasar gue kirain beneran neng. Jalan suci ya…jangan-jangan kita tetanggaan ya????”

“ oia lo di mana???”

“ gue di perumaha Alamanda.”

“ serius……gue juga kali. Gue anak blok D.”

“ Gila. Rumah gue ada di blok A. kok bisa kebetulan banget gitu se.”

“ iyah….gue juga kaget.”

“ hehehehe……”

“ baguslah kalo gitu, bensin gue ga bakal abis nie….”

“ gue ga perlu bayar bensin kan???”

“ ggaaa…. Lah…”

“ hahahahhaha…..”

Setelah itu, pembicaraan di antara kami jadi lebih enak. Suatu kebetulan yang menyenangkan ternyata aku bertetangga dengan Reza. Kami jadi punya bahan banyak untuk menobrol karena tinggal di lingkungan yang sama. Ditambah lagi ternyata Reza orang yang sangat ramah dan enak diajak mengobrol. Sama dengan Anto, di dekat Reza aku juga merasa sangat nyaman dan aman.

Aku baru sampai rumah jam 3 sore. Aku dengan mudah melupakn bahwa aku punya janji dengan dokter Rio untuk menemuinya di Rumah Sakit hari ini. Hari ini aku begitu bahgia jadi aku tidak ingin kebahagiaan ku ini diusik oleh penyakit kanker. Setidaknya biarlah aku merasakan kebahagiaan di akhir-akhir umurku.

∞∞∞∞

Sejak hari itu, aku dan Reza menjadi lebih dekat. Entah siapa yang memulai tapi tiba-tiba saja dia jadi menjemputku setiap hari dan mengantarkan aku pulang. Karena itu pulalah sudah selama seminggu ini aku tidak pernah lagi datang ke Rumah sakit untuk cuci darah seperti biasanya. Aku mulai berpikir, bahwa aku harus cuci darah jika aku merasa sakit. Tapi bersama Reza membuatku merasa kuat, aku bahkan merasa tidak perlu lagi minum obat. Entah dari mana Reza memberi ku kekuatan. Padahal sebenarnya topik kami setiap hari tidak pernah jauh dari Risa Triali, perempuan yang Reza cintai. Reza selalu bercerita betapa dia mencintai Risa, dan dia selalu mempertanyakan mengapa Risa tidak pernah mencintainya. Aku sebernarnya miris mendengar semua ceritanya itu, tapi tidak apa-apa. karena bisa berada di dekatnya seperti ini saja sudah membuatku begitu bahagia. Buktinya aku merasa penyakitku sudah sembuh. Yah setidaknya aku tidak merasa sakit lagi sekarang.

Seperti siang ini, di perjalanan pulang ke Rumah, seperti biasa Anto dan Aziz juga ada di situ, tapi bedanya sekarang aku duduk di depan di sebelah Reza. Karena Reza yang minta dia bilang duduk di sebelah Tari, bikin konsen nyetir. Aku GR saat mendengarnya bicara demikian Hehehe.

Siang ini topiknya masih Risa, Reza pun bercerita bahwa sebenarnya Risa itu juga cinta padanya, hanya saja ada alasan yang membuat wanita cantik itu menolaknya.

“ Jadi, gue tadi yakin banget de…… Risa ntu ngelihatin gue gitu de…..yakin. “ Reza memulai ceritanya.

“ trus….???” Komentar Anto, dia sudah mulai bosan dengan cerita Reza. Selalu begitu Anto tampak sangat tidak bersemangat akhir-akhir ini. Selama seminggu ini. Ketika aku mencoba menanyakan padanya, dia malah diam saja dan mengalihakan pembicaraan segera. Aku berharap itu bukan karena kedekatan ku dengan Reza akhir-akhir ini.

“ yah…..baerarti kesempatan gue belum berakhir dong.” Reza kembali membela diri.

“ sama aja Za, lo tetep aja kan ditolak ma dia. Uda de Za, lo nyerah aja. Lo ntu jatuhin pasaran lo sendiri kali. Ngejar-ngejar cewek kayak gitu. Masih banyak lagi cewek yang mau sama lo.” Kali ini Aziz yang berpendapat. Dalam hati aku menyetujui kalimat Aziz.

“ hhhhhh……. Bukan gitu Ziz, gue Cuma harus lebih berusaha lagi menyakinkan dia agar dia ntu mau ma gue….. bener ga, Tar?” Reza bertanya padaku.

“ Yaaaah….. lo butuh yakinkan dia, kalo lo ntu gga main-main ma dia.” Dengan dibuat setenang mungkin aku menjawab.

“ nah ntu poinnnya Tar…. Gue punya rencana.”

“ ggaa….. lagi-lagi de Za….”

“ yang ini beda Ziz…..”

“ alah paling rencana lo ntu Cuma berakhir dengan memperlakukan diri lo sendiri. Gue ga ikut-ikutan.”

“ gga bakal ,,,,, de….”

“ yaudah kita dengerin ajjah de Ziz…. Mang apa se ide brilliant lo???”

“ jadi gini….gue minta Tari pura-pura jadi pacar gue, nah kalo Risa mang sayang ma gue, dia pasti cemburu kan???....nah di situ lah gue bakal nyadarin dia kalo dia ntu sebenarnya butuh gue. Gimana hebatkan? Dan gue gga kelihatan konyol”

Deggg. Demi mendengar rencana itu jantungku berhenti sedetik. Oh tuhan tadi kalo aku tidak salah dengar Riza bilang ingin aku jadi pacarnya. Wow…meskipun pura-pura, tapi bagiku itu seperti pengabulan permintaan terakhir ku di dunia.

“ Gilaaaa. Lo Za…..yah kalo RIsa cemburu, kalo kaga…..gimana? “ Aziz pun spontan berkomentar.

“ iyah gue gga setuju, apalagi mpe manfaatin Tari …. Lo tega banget sih.” Anto juga menambahi.

“ hei…..gue ma Tari kan temen guys, gga da salahnya kan bantuin temen. Lagi pula gue 111% yakin Risa bakal jeles. Udahlah ini gga akan lama. Paling 3 hari doang.”

“ brengsek lo Za….Tar, lo jangan mau di peralat ma Riza. Ntar apa kata anak-anak kampus. Bisa-bisa lo di kira barang sewaan untuk jadi pacar sementara.” Sekarang Anto sedikit emosi. Gue cuma diem aja mendengarnya. Benar juga kata Anto. Kalau anak-anak kampus tahu, pasti image ku yang sudah buruk di mata mereka, bertambah-tambah de. Tapi aku tidak mungkin menolak rencana Reza tadi. Menjadi pacarnya adalah impianku.

“ mikir lo kejauhan de To….ntu gga bakal terjadi. Lo mau bantuin gue kan Tar???” Reza pun menjawab Anto. Dan lansung bertanya padaku. Aku diam saja. Berpikir sebentar, lalu dengan yakin menajwab.

“ iyah gue mau.”

“ Horeee “

Aku melihat Anto membuang muka ke arah jendela. Setelah itu selama perjalanan sampai ke rumahnya Anto diam saja. Aku jadi sedikit merasa bersalah, tapi Anto mau gimana lagi, aku punya alasan kuat.

∞∞∞∞

Malamnya, hujan deras mengguyur bandung. Membuat setiap orang malas untuk keluar rumah. Aku di rumah bersama kedua orang tuaku. Dari dalam kamar aku mereka di ruang keluarga membicarakan tentang keadaan ku. Sepertinya dokter Rio sudah bercerita kepada kedua orang tuaku bahwa sudah seminggu ini aku tidak mencuci darah dan tidak pernah datang menemui dokter Rio jika diminta. Dari percakapan mereka aku bisa mendengar bahwa mereka menganggap aku sudah tidak punya semangat hidup lagi dan sudah menyerah pada penyakitku. Dalam percekapan itu aku dengar suara ibuku menangis sesengukan. Aku jadi merasa bersalah mendengarnya. Ayah, ibu seandainya kalian tahu bahwa anak kalian sekarang justru dalam kondisi terbaiknya. Memang aku sadari sejak dua minggu yang lalu, bahwa kondisi ku sedikit memburuk. Aku tahu nyawa ku pun sudah tidak lama lagi, jadi aku mohon Ibu, Ayah biarkanlah anak mu ini menjalani hidup yang dia inginkan di akhir-akhir umurnya.

Malam berlanjut larut, ketika ada seseorang yang mengetok pintu kamarku. Dengan malas aku membuka pintu, ternyata bibi chi. Katanya ada tamu untuku. Hal yang aneh, jarang sekali aku mendapat tamu apalagi di malam hari seperti ini. Orang tua ku sudah tertidur. Jadi bibi chi yang membuka pintu. Dengan penasaran aku berjalan ke ruang tamu. Aku sedikit kaget saat tahu yang duduk di sana adalah Anto. Ada angin apa dia sampai datang ke rumah ku malam-malam begini. Aku tersenyum padanya, dan duduk di depanya lalu bicara santai.

“ Ada apa, To? “

“ Maaf soal tadi siang.” Dia memulai kalimatnya. Malam ini Anto rapi sekali dia memakai kemeja warna hitam. Seperti baru saja melayat orang meninggal. Degg. Pikiran ku mulai melantur.

“ Oh… ga apa-apa. lo ga salah To, makasih ya lo udah mikirin gue.”

“ Tar, gue boleh ga minta sesuatu dari lo? “ Anto serius sekali. Wajahnya sama seperti ketika dulu aku melihatnya siang hari, dia nampak tidak punya semangat hidup.

“ kalu gue bisa, oke aja.” Jawabku santai, mencoba mencairkan suasana.

“ Pliss, Tar lo jangan mau jadi pacar bo’onganya Reza. Gue tahu lo orang baik, Reza emang orang kaya gitu…. Tenang aja kalian bakal temenan kok meskipun lo tolak tawarannya Tar.”

Aku kaget mendengar Anto bicara demikian. Jadi maksud kedatangannya malam-malam di tengah hujan deras begini hanya untuk melarangku. Aku terharu sekali. Tuhan, kau mengirimkan banyak sekali orang yang menyayangi ku di akhir hidup ini. Aku benar-benar bersyukur.

“ Memangnya kenapa, To? Lo takut nama gue tercemar?” Tanya ku padanya.

“ Gue Cuma mikirin kebaikan lo aja, Tar.” Dengan wajah yang amat serius Anto menjawab, kali ini matanya lurus menatapku. Aku merasakan ketulusannya.

“ Anto, gue bakal baik-baik aja kok.” Kataku mencoba menenangkannya.

∞∞∞∞

Keesokan harinya. Kampus heboh dengan berita bahwa Reza telah jadian dengan ku. bagaimana tidak, cowok paling famous di kampus jadian dengan cewek dari planet mars. Seluruh penjuru kampus serentak menjadikan kami bahan gossip terpanas. Dan belum apa-apa nama ku sudah buruk dulu, tiba-tiba saja terdengar kabar aku menyantet Reza, bahkan ada yang bilang aku membayar Reza untuk jadi pacarku. Ckckckckc, sungguh keterlaluan.

Tapi justru itulah yang dicari Reza, semakin sering kami dibicarakan semakin mesralah kami. Reza bahkan sampai ikut semua kelasku. Bahkan dia sempat berorasi menyatakan betapa dia sangat mencintaiku. Jika ada yang berbicara buruk tentang ku dan kebetulan kami mendenagrnya, Reza langsung membelaku habis-habis-an. Satu hari penuh Reza selalu di dekat ku. Bahkan ketika sudah pulang dari kampus dia masih saja pura-pura menjadi pacarku. Dia bilang mungkin saja ada mata-mata Risa yang melihat. Ngaco.

Kegilaan tersebut berlangsung sampai 3 hari. Sampai hari ketiga, ketika Reza mulai menyerah karena sepertinya tidak ada Respon dari Risa. Tetapi tiba-tiba terdengar kabar yang sangat menghebohkan yaitu ditemukannya seorang mahasiswi yang mencoba bunuh diri. Mahasiswi itu adalah Risa Triali, dia mencoba bunuh diri dengan meminum banyak-banyak baigon, yang entah dia bawa dari mana. Teman-teman Risa satu genk bercerita bahwa Risa melakukan hal bodoh itu karena merasa sudah tidak dicintai lagi oleh Reza. Ternyata selama ini Risa sangat mencintai Reza, alasan dia menolak Reza adalah karena selama ini dia sudah punya pacar yang tidak cewek itu pacari sejak SMA. Kata teman-teman Risa juga, selama ini Risa berusaha keras meminta putus pada mantan pacarnya itu. dan ketika akhirnya berhasil malah Reza jadian dengan diriku. Mendengar semua itu Reza langsung kalap dan berlari menuju Rumah sakit tempat Risa dirawat. Di sana Reza menceritakan semuanya tentang rencana bodohnya, dan tentang perasaannya pada Risa yang tidak pernah berubah sedikit pun. Risa ternyata mau menerima semua itu, dan sejak saat itu Reza dan Risa jadian.

Kabar tentang diriku yang menjadi pacar bo’ongan pun tersebar di seluruh kampus. Dan benar dugaan Anto, namaku menjadi sangat tercemar sejak saat itu. Orang-orang berpikir aku adalah cewek tidak baik yang bisa disewa disana-sini. Tetapi untung saja aku tida pernah benar-benar merasakan cemoohan dari orang-orang kampus. Karena tepat di hari Reza berlari ke Rumah sakit menemui Risa, hari itu juga kondisiku drop. Dan sejak saat itu aku tidak pernah datang lagi ke kampus.

∞∞∞∞

Siang hari yang panas, aku duduk-duduk di teras rumah ku, sambil membuka-buka majalah yang sudah kadal luarsa. Tidak pergi ke kampus, membuat hari yang kulalui sangat membosankan. Aku tidak tahu harus bagaimana menghabiskan hari. Karena orang tuaku melarang pergi kemanapun tanpa mereka, jadi bisa dipastikan aku menghabiskan seluruh hariku di rumah. Sesekali aku kangen dengan kehidupan kampus. Sempat terpikir bahwa jadi bahan cemoohan di kampus lebih baik, daripada menanti kematian di rumah seperti ini. Aku juga merindukan Anto dan Aziz, meskipun Cuma sebentar tetapi berteman dengan mereka benar-benar menyenangkan. Terutama Anto, aku selalu merasa bahwa Anto adalah malaikat yang dikirm Tuhan untuku, aku merindukan ketenangan ketika duduk di sebelahnya. Dan yang paling aku rindukan tentu saja Reza Fisto Adrian, mungkin sekarang dia sudah bahagia bersama gadis yang dia cintai Risa Trialu. Dan disaat yang begitu membosankan ini, tiba-tiba Anto memarkir motornya di halaman rumahku, membuatku sangat kaget.

“ lo nyesel yang dating gue dan bukan Reza???” katanya, ketika membuka helmnya. Dia sama seperti Anto yang pertama kali menyapaku, penuh semangat dan membagi semangatnya di sekitarnya. Aku tersenyum menyambutnya.

“ gga-lah. Dari kampus, To?” Tanya ku padanya. jujur aku sangat senang melihat Anto datang. Apalagi Anto yang datang kali in adalah Anto yang penuh semangat.

“ Iyah. Hehehe. Reza sekarang punya Risa, jadi gue kehilangan tebengan gue deh. Lo dapet salam dari Aziz, dia mau ikut sebenarnya, tapi mendadak nyokabnya minta dia balik.”

Anto menjelaskan panjang. Dan seperti biasa dia selalu menjawab pertanyaan yanga ada di wajahku.

“ salam balik yah. Gimana kampus To?” Tanya ku, santai.

“ Yah gitulah Tar, lo famous banget sekarang, banyak cowok yang nyariin lo, tapi gga sedikit juga cewek yang benci banget ma lo, Tar.”

“ Waduh, kayaknya kejadiannya udah lama benget de, To. Masa masih dibahas juga sih.” Aku mencoba menanggapi sewajar mungkin.

“ Makanya Tar, ke kampus dong. Lo mana ngerti gue bohong ato kaga.”

“ Sialan lo, To.”

“ Hahahahaha….” Dan kita pun tertawa bersama. Lalu kami terdiam sejenak. Dan Anto pun kembali memecah kesunyian.

“ Gue, kan udah memperingatkan lo, Tar.”

“ Dan, Gue juga udah bilang ma Lo kan, To. Gue bakal baik-baik aja.”

“ Baik-baik aja, apanya. Lo uda 2 minggu ga ke kampus, Tar. Gue ngerti ini bukan soal lo takut ngadepin omongan anak-anak. Tapi ini soal hati lo, Tar. Gue tahu benget sakitnya. Sejak awal Gue tahu lo suka ma Reza, makanya gue nglarang lo. Gue bisa nebak bakal kayak gini jadinya. Lo mungkin dulu mikir, lo bakal bahagia melihat orang yang lo sayang bahagia, tapi sekarang lo rasain sendiri penyesalan yang menyakitkan. Gue uda pernah ngalemin Tar, makanya gue tahu. “ Anto pu nyerocos berbicara.

Dan aku hanya mendengarnya saja dalam diam. Sampai tiba-tiba aku pun menangis. Dihadapan Anto yang memandangiku penuh rasa sayang. Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Padahal aku sudah berjanji tidak akan menangis lagi di Bandung. Tapi saat ini, aku ingin sekali menangis, melampiaskan semua yang mengganjal di hatiku selama 3 bulan ini. Menyesali semua yang harus aku sesali. Sekaligus bersyukur karena Tuhan telah mengirimkan Anto untuk menemaniku.

∞∞∞∞

Aku berada di kamar ku di Rumah sakit. Sudah 1 bulan aku di rawat di sini. Kata dokter penyakitku sudah sangat parah, jadi aku harus bed rest agar pengobatanku ku lebih mudah. Tapi bagiku ini seperti menanti kematian. Anto sudah tahu aku sakit. Hampir tiap hari dia sempatkan diri untuk mampir ke rumah sakit meski hanya 15 menit. Anto adalah sahabat yang baik, ternyata aku tidak pernah salah memilihnya. Sampai hari ini aku tidak pernah melihat Anto menangis, dan itu membuatku kuat. Bagiku itu sudah cukup. Siang ini anto datang lagi menjenguk ku. Sebelumnya dia menelepon akan membawa hadiah special untuku.

“ Hei….gimana kampus???” aku menyapanya ketika dia masuk kamarku.

“ kampus ato Reza???” jawabnya santai. Di selalu meledekku soal Reza, entahlah mungkin bagi dia itu menyenangkan.

“ hahahaha….22nya bos….”

“ Kampus, masih seperti biasa. Dan Reza…. Dia putus ma Risa.” Anto menjawab dengan asal.

“ hha?!” aku kaget mendengarnya.

“ iya… dia merasa dia gga cocok dengan Risa. Risa terlalu posesif. dan yang paling penting Reza tahu bahwa ternyata selama ini dia gga pernah jatuh cinta ma Risa, dia hanya terobsesi aja, dan. Dia baru menyadari bahwa selama ini dia telah jatuh cinta dengan cewek lain….”

“ ohhhh…..”

“ cemburu ya???” ledek Anto lagi.

“ ngaco!!!....udahlah katanya ada Hadiah buat gue…..mana????”

“ hhahahahha….lo merem dulu deh.”

Aku pun memejam kan mata. Anto pun mulai menghitung dari satu sampai sepuluh, saat hitungan ke sepuluh, kurasakan suaranya semakin jauh. Aku merasa dia ada di luar kamar. Entah kegilaan apa yang akan di buatnya. Aku pun berdebar menunggu kejutanya.

“ Sekarang sudah boleh membuka mata, Tar.”

Dan jantungku benar-benar berhenti seketika ketika aku mendengar suara orang yang menyuruhku membuka mataku. Perelahan ku buka mataku. Dan pemandangan yang aku lihat adalah sesosok laki-laki yang selama ini aku cintai. Riza Fasto Ardian, berdiri tepat di samping ranjangku.

“hai….” Sapanya.

“ hai….juga…..” Balasku canggung. Dalam hati aku memaki habis-habisan Anto.

Dan kami terdiam sejenak. Saling berpandangan cukup lama. Kali ini aku merasa ada yang berberda dengan tatapan Reza.

“ lo jahat Tar….?” Tiba-tiba dia memecah kesunyian.

“ kok????” aku kaget juga dibilang jahat secara aku sudah lama tidak bertemu. Mana mungkin aku berbuat jahat padanya.

“ masa sakit gga bilang-bilang sih…..” dia pun menjawab. Sekarang dia sudah duduk di dekat ranjangku. Kami jadi lebih dekat sekarang. Dan tatapan Reza juga aku rasakan semakin dalam.

“ hahahahhaha…..mang kalo gue bilang-bilang gue bakal sembuh apa???”

Aku mencoba melucu, membuyarkan tatapan Reza, yang begitu serius. Tapi dia hanya tersnyum kecil. Lalu terdiam lagi. Perlahan tangannya mengelus-elus rambut. Begitu lembut. Lalu aku biarkan saja tangannya disana. Aku memejamkan mataku untuk lebih merasakan kelembutan tangannya.

“ Tar…..” katanya pelan.

“ ya?”

“ aku …..minta maaf. “

Dan aku hanya mengangguk mengiyakan. Lalu kami kembali terdiam. Sejujurnya aku masih bingung dengan sikap Reza, tapi aku ikuti saja apa yang dia inginkan.

“ gue ada permintaan buat lo Tar….”

“ Za, Gue udah ga bisa apa-apa lagi. Mungkin kali ini gue ga bisa mengabulkan permintaan lo. Maaf.” Jawab ku tenang. Membalas memandang matanya.

“ ga, Tar. Kamu harus bisa mengabulkan permintaan ku kali ini.”

Aku diam saja.

“ Tari, izinkan aku Reza Fisto Adrian menemani hari-hari terakhirmu. Karena aku ga tahu lagi apa yang bisa aku lakukan untuk mu. I love you, Tar. “

Aku tersenyum mendengar kalimatnya. Aku pandangi Reza begitu dalam. Dan aku mengangguk, mengiyakan. Lalu aku edarkan pandangan ku ke jendela di kamar. Di sana aku melihat dokter Rio, Kedua Orang tuaku dan Anto, aku tersenyum pada mereka juga.

Tiba-tiba aku merasakan tubuhku lelah. Pandanganku pun mulai kabur. Sayup-sayup aku mendengar ribut sekali di sekitar. Ada yang berlari-lari, ada yang menangis, bahkan ada yang begitu dekat berteriak namaku. Tapi aku sudah sangat lelah untuk menyambutnya. Jadi kuputuskan untuk bersiap tidur. Tidur panjang yang sudah lama aku nantikan.

.FIN.

.21 mei 2009.

D, Arifianti